Serial Fikih Pendidikan Anak: Perlukah Menakut Nakuti Anak? - Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

Serial Fikih Pendidikan Anak: Perlukah Menakut Nakuti Anak? - Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA




Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 148 PERLUKAH MENAKUT-NAKUTI ANAK? Dalam Islam dikenal sepasang konsep pendidikan manusia. Yaitu targhîb dan tarhîb. Targhîb adalah: motivasi, rangsangan dan iming-iming dengan sesuatu yang menyenangkan. Adapun tarhîb adalah: peringatan keras, ancaman dan menakut-nakuti dengan sesuatu yang mengerikan. Sehingga dalam al-Qur’an kerap Allah memaparkan pemandangan kondisi surga dan pemandangan kondisi neraka. Dengan tujuan untuk memotivasi kaum mukminin dan mengancam orang-orang kafir. Hanya saja memang porsi motivasi lebih dominan dibanding ancaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ" “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelemahlembutan. Dia akan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran dan apa yang tidak diberikan-Nya kepada selain itu”. HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Konsep targhîb dan tarhîb bisa diterapkan dalam pendidikan anak. Sejak dini anak sudah dikenalkan dengan resiko perbuatan yang dilakukannya. Jika baik, maka ia berhak mendapatkan penghargaan. Bila buruk, maka ia layak mendapatkan hukuman. Harus Proporsional Penerapan konsep targhîb dan tarhîb dalam pendidikan anak, mesti memperhatikan asas proporsionalitas. Harus seimbang. Namun keseimbangan di sini bukan berarti 50 % - 50 %. Justru targhîb lah yang perlu lebih dominan. Sebab jika terbalik, tarhîb nya yang lebih banyak, efek buruknya bakal panjang. Manusia dilengkapi dengan ‘otak reptil’ (emosional) dan ‘otak mamalia’ (rasional). Dengan terlalu sering menakut-nakuti anak—walau seakan Anda berhasil mengatur, mengendalikan dan membuat anak melakukan apa yang Anda perintahkan—hasil ‘menggembirakan’ ini biasanya hanya bersifat sementara. Ketakutan yang ditimbulkan akibat kekerasan hanya menstimulasi ‘otak reptil’ manusia (emosional), bukan ‘otak mamalianya’ (rasional). Dan sesuai fungsinya, ‘otak reptil’ akan memunculkan respon berupa lari atau melawan. Karena merasa lemah, maka anak akan menaati perintah orang tuanya, namun dengan suasana tertekan dan keterpaksaan. Jika ini terus menerus ia rasakan, maka anak bisa stress dan dikhawatirkan akan mencari tempat pelarian yang tentu tidak bisa dijamin kepositifannya. Yang lebih mengerikan adalah jika anak merasa telah kuat fisiknya, sedangkan orangtua semakin melemah seiring bertambahnya usia. Ia bisa berbalik melawan orangtuanya dan melancarkan upaya balas dendam. Na’udzubillah min dzalik. Orangtua yang bijaksana, ia selalu berupaya menenangkan ‘otak reptil’ dan menstimulasi ‘otak mamalia’ dalam diri anak. Jika ini dilakukan, insyaAllah keberhasilannya akan bersifat jangka panjang, bukan sementara. “Ayah mengerti kamu kecewa. Tapi menurutmu, kenapa anak di bawah umur dilarang mengemudikan sepeda motor?”. “Wah, bagus ya, gelang ini. Pantas saja kamu suka. Mau kamu letakkan di tempatnya semula atau kamu kembalikan kepada yang punya?”. “Menunggu memang membosankan. Yuk, cari ide, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang!”. “Bunda bisa merasakan ketidaknyamananmu. Cacar air memang bikin seluruh badan gatal. Nanti kalau kamu sudah sembuh benar, apa yang ingin kamu lakukan pertama kali?”. “Syukurlah kamu sampai di rumah tak kurang suatu apapun. Bunda tadi cemas sekali, karena tak tahu kamu ada di mana dan kapan pulang. Bunda percaya, lain kali kamu akan menelpon dulu kalau mau terlambat pulang”. Berbagai kalimat di atas adalah contoh ungkapan-ungkapan positif yang berfungsi menenangkan emosional anak dan membangkitkan rasionalitas dia. Lihat: Yuk, Jadi Orang Tua Shalih,¬ karya Ihsan Baihaqi (hal. 154). Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Sya’ban 1442 / 29 Maret 2021

Post a Comment

Copyright © Video Dawah Islam - Dakwah & Tausiah harian Indonesia . Designed by OddThemes and Seotray